Anda disini : TOP >> Duniaku >> Perjalanan Melelahkan
Perjalanan Melelahkan
Jam dua lewat dikit, aku dah bangun untuk siap-siap meluncur ke bandara. Jadwal penerbangan yang jam lima subuh, memaksaku untuk berangkat dari rumah sebelum jam tiga-an. Untung tidak perlu nyari taksi di malam yang masih suntuk itu, karena ada teman yang rela mengantar aku ke Bandara.

Semuanya siap, dan kamipun meluncur menuju Bandara. Langsung urus per-checkin-an, aku masuk menunggu di ruang tunggu dekat gate F6. Sempat ke toilet untuk membasuh muka sekaligus ambil air wudhu, biar ntar di pesawat tinggal sholat subuh. Akhirnya, panggilan untuk naik pesawat pun berkumandang. Penumpang yang dari tadi berjejal-jejal duduk menunggu, bagai dikomando membuat antrian untuk masuk di gate 6, menuju pesawat yang akan membawa kami ke Makassar.

Karena diburu waktu, serasa perjalanan yang 'hanya' butuh waktu 2 jam-an itu terasa lama sekali. Akhirnya mendarat juga di Lapangan udara Hasanuddin Makassar. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat seperempat. Aku langsung bergegas menuju pintu keluar Bandara karena memang tidak membawa barang yang dibagasikan.

Tanpa pikir panjang, mendaftar taksi bandara, lalu meluncur ke arah terminal Mallengkeri, tempat aku akan mencari angkutan menuju pelabuhan Bira Bulukumba. Jalan tol yang sedang dalam perbaikan, memaksa kami melewati rute non tol yang dari segi jarak, lebih jauh dari rute tol. Dan mungkin karena jam pergi kantor buat yang suka terlambat, jalanan tidak se lancar yang kami harapkan. Karena buru-buru, aku minta sang sopir untuk melewati jalan belakang. Alhasil, jam 10-an, saya sampai ke Terminal Mallengkeri.

Belum lagi masuk ke arena terminal, aku sudah diperebutkan oleh para cukong angkutan jarak jauh. "Langsung jalan..., Mau kemana Pak?", Berbagai kata-kata rayuan bernada memaksa berhamburan dari mulut-mulut para cukong. Aku tidak merespon apa-apa, cuek dan diam seribu basa sambil berjalan agak ke pinggir. Akhirnya ada lagi seorang yang datang, dengan sopan berkata lembut, "mau kemana Pak?". "Ke Bulukumba", jawabku singkat. "Naik itu aja, langsung jalan", ujarnya masih dengan nada bicara yang tenang. "Benar lansung jalan kan? Soalnya biasanya ngomongnya doang langsung jalan. Saya memang mau langsung jalan nih, buru-buru", jawabku menjelaskan sambil bertanya. Mendengar itu, dia langsung memasang kuda-kuda untuk negosiasi.

Dalam hati aku juga, mulai pasang kuda-kuda. Hehehe..., sini juga premang koq, candaku dalam hati.
"Buru-buru yah Pak?", tanyanya.
"Iyah", jawabku singkat.
"Mau gak bayar 3 orang, kita langsung jalan. Itu mobilku", katanya sambil menunjuk ke sebuah mobil kijang warna putih yang terparkir agak jauh ke dalam.
Aku berjalan mengikutinya menuju mobil yang dia tunjuk. "Hmm..., lumayan bersih", pikirku dalam hati.
"Bener langsung jalan yah?", tanyaku memastikan.
"Iyah...", ucapnya dengan suara yang agak ragu.
"OK. Aku bayar untuk jatah 3 orang. Ayo kita Jalan", ujarku sambil menaiki mobil tersebut.

Mobil pun bergerak sedikit demi sedikit menuju pintu keluar dari area terminal. Sesekali, sang sopir melambaikan tangannya, mencari penumpang lagi, tapi tidak berhenti total. Dalam hati aku berguman, sudah ngomong langsung jalan aja masih celengak celenguk nyari penumpan. Tapi pemandangan ini merupakan hal yang sudah biasa. Namun kali ini, aku memang buru-buru. Akhirnya, tanpa mau berdebat lagi, aku langsung bilang, "Dah... tancap gas aja. Gak usah ngambil-ngambil lagi, aku bayar untuk jatah 5 penumpang". Baru dengan senyumannya yang penuh kepuasan, sang sopir tancap gas. Maklum, disamping buru-buru, berhenti seperti itu di bawah panasnya hawa Makassar tanpa AC, juga termasuk hal yang sangat menyiksa.

Di pertengahan daerah Gowa, sang sopir bertanya,"kita buru2 kan?". "Iyah", jawabku singkat. Ternyata, dia menawarkan berhenti sebentara untuk mengganti plat mobilnya, dari kuning ke hitam. Iyah, dengan plat hitam, mobil tidak perlu berhenti di tiap terminal yang dilalui, sehingga bisa sedikit mengirit waktu. Disamping itu, ngirit 'setoran' retribusi juga tentunya. Aku cuman bisa mengiyakan.

Singgah sebentar ganti Plat, sekaligus beli makanan dan minuman ala kadarnya, kami meneruskan perjalanan. Sebuah perjalanan yang sangat melelahkan melalui daerah Gowa, Takalar, Je'neponto, Bantaeng, dan terakhir Bulukumba. Sekitar empat setengah jam kami digoyang di dalam mobil, akhirnya sampai juga di Pasir Putih Bira, tempat rekreasi pantai yang lumayan terkenal di ujung selatan pulang sulawesi.

Beberapa orang pasangan bule terlihat baru pulang dari rekreasi diving di tengah laut. Aku menanyakan keberadaan joloro'(kapal kecil), yang menjemputku di pantai berpasir putih itu, namum penduduk setempat tidak ada yang tau. Akhirnya aku pasrah duduk menunggu beberapa saat di sebuah warung pas di bibir pantai. Tidak mungkin juga kita mengunjungi satu-satu kapal-kapal kecil yang tengah berlabuh di laut di sekitar tempat itu. Pun aku berpikiran, kalau saja penjemput sudah datang, pasti akan ke darat menunggu saya.

Lebih satu jam aku menunggu, sambil sesekali menelpon ke kampung menanyakan joloro', yang kata mereka sudah lama pergi, akhirnya seseorang menampakkan diri di sebuah joloro' panjang yang dari tadi berlabuh. Aku memaksakan diri bertanya dengan suara berteriak, "Andi Baso'?". Spontan orang itu menjawab, "Iyah". Kontan emosiku kembali bergejolak. Pengen rasanya memaki-maki itu orang, karena seharusnya aku dah nyampai ke daratan Selayar, namun karena dia tidak menampakkan diri, akhirnya waktu terbuang percuma.

Sambil menggerutu, aku naik ke joloro' itu, lalu menyuruhnya langsung tancap gas. Sang joloro', tanpa mempedulikan ombak yang tingginya bisa melebihi 4 kali tinggil joloro' itu sendiri, terus meluncur membelah gelombang. Dalam kepalaku yang ada, bagaimana secepatnya nyampai ke kampung Bonelohe, karena di sana kakak sudah menunggu untuk selanjutnya meluncur ke Benteng tempat sang mertua tinggal.

Jam 4-an sore, baru aku mendarat di Bonelohe. Tanpa istirahat, mobil kakak dipacu menuju rumah duka, tempat mertua bersemayam sebelum dikuburkan. Tapi karena waktu nunggu yang terlalu lama, terpaksa jenazah dikebumikan sebelum aku sampai ke tempat tujuan. Sampai di rumah mertua, hari sudah menunjukkan jam lima kurang dikit. Sebuah perjalanan panjang yang sangat melelahkan dari Jatibening Pondok Gede, menuju Benteng, pulau Selayar Sulawesi Selatan, membutuhkan waktu lebih dari 14 jam. Dengan mobil, pesawat, taksi, mobil angkutan jarak jauh, perahu motor, kembali naik mobil. Entah berapa ribu kilometer yang sudah terlampaui, yang pasti sesampainya di rumah, aku langsung terkapar. Tujuan untuk bisa melihat jasad mertua sebelum dikuburkan pun tidak tercapai. Yang ada, kelelahan dlaam perjalanan penuh tantangan sepanjang hari. (30 April 2008)
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_921_2008_05