Mahalnya Bersekolah
15-05-2008
Saat ini aku lagi mencari SD buat si Farhan. Keterbatasan waktu membuat aku tidak bisa terlalu fokus sama urusan tersebut. Dan ternyata nyari sekolah itu memang harusnya jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan kalau perlu, sekitar setahun sebelumnya.
Iyah..., si Farhan mau masuk SD, tapi sampai saat ini belum fix, mau di SD mana. Belum lagi ada beberapa sekolah yang belum bisa menerima murid baru yang usianya belum cukup 6 tahun, walaupun anak itu misalnya sudah lebih mandiri dan dewasa dari anak-anak seusianya sekalipun. Sementara Farhan sendiri baru 5 setengah tahun-an. Akh....., tambah pusing.
Sudah ada beberapa sekolah yang di-survey secara diam-diam. Dan baru sadar ternyata masuk SD saja uang mukanya bisa sampai puluhan juta, bahkan bisa jadi ada yang sampai ratusan juta. Ini baru setingkat TK maupun SD. Dari situ bisa dibayangkan betapa memang pendidikan di negeri ini sangat mahal, dan pendidikan yang bermutu praktis hanya buat orang-orang yang berduit.
Kalau kita memperhatikan fakta bahwa pendidikan memegang peranan yang sangat dominan dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan sebuah kelompok, keluarga, maupun individu, maka di negeri ini memang semakin mengarah kepada keadaan sosial "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Pemerintah tidak mampu memberikan sebuah keadaan yang bisa tergolong adil untuk semua warga negara.
Itu jenjang pendidikan di tingkat dasar. Bagaimana dengan tingkat pendidikan di Perguruan Tinggi misalnya. Ternyata disitu malah jauh lebih kurang jelas aturan pembiayaannya. Ada istilah subsidi silang, tapi aku tidak begitu yakin itu bisa berjalan sesuai apa yang digembar-gemborkan oleh pihak perguruan tinggi.
Bisakah anda membayangkan bahwa ada jalur masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang mematok uang masuk bahkan sampai 400 jutaan? Iyah..., Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Negeri ini. Sebagai orang kecil, aku sangat tidak bisa mengerti keadaan itu. Dan akan lebih tidak bisa mengerti lagi, alasan orang menempuh jalur itu. "Mendingan Kuliah di Luar Negeri yang jelas-jelas kwalitasnya lebih baik", demikian aku berpandangan. Uang masuk 200 jutaan, bisa menyekolahkan beberapa orang ke luar negeri, termasuk ke negara yang berbiaya hidup dan pendidikan tinggi seperti Jepang.
Sepertinya dunia pendidikan negeri ini memang lagi tidak jelas. Pendidikan gratis masih sebatas menjadi jorgan politik penarik pemilih dikala kampanye. 20% APBN diarahkan ke sektor pendidikan sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang, pun masih belum mampu direaliasasikan, alias Undang-undang tentang hal ini sendiri masih dikhianati. Kalau alasannya, APBN yang sangat terbatas, buktinya masih banyak penyaluran anggaran yang bisa digolongkan tidak urgen. Belum lagi, anggaran yang dikorupsi oleh berbagai oknum, baik terang-terangan ataupun secara halus, sangat tergolong tidak sedikit.
Mau mengubah nasib bangsa ini, perhatikan pendidikan. Tanpa itu, jangan berharap akan ada perubahan yang berarti. Bahkan sebaliknya, bangsa ini akan semakin terpuruk menjadi bangsa kuli yang hanya bisa menjadi penonton di tingkat dunia. Tingkat kemisikinan hanya akan makin membengkak. BBM akan terasa makin mencekik leher. Harga sembako akan makin tidak terjangkau, dan korbannya hampir pasti mereka-mereka yang tidak mampu mengecap pendidikan yang mahalnya naudzubillah itu.
Yang pasti, aku masih pusing, Farhan mau sekolah di mana. Hiks.....!!!
Iyah..., si Farhan mau masuk SD, tapi sampai saat ini belum fix, mau di SD mana. Belum lagi ada beberapa sekolah yang belum bisa menerima murid baru yang usianya belum cukup 6 tahun, walaupun anak itu misalnya sudah lebih mandiri dan dewasa dari anak-anak seusianya sekalipun. Sementara Farhan sendiri baru 5 setengah tahun-an. Akh....., tambah pusing.
Sudah ada beberapa sekolah yang di-survey secara diam-diam. Dan baru sadar ternyata masuk SD saja uang mukanya bisa sampai puluhan juta, bahkan bisa jadi ada yang sampai ratusan juta. Ini baru setingkat TK maupun SD. Dari situ bisa dibayangkan betapa memang pendidikan di negeri ini sangat mahal, dan pendidikan yang bermutu praktis hanya buat orang-orang yang berduit.
Kalau kita memperhatikan fakta bahwa pendidikan memegang peranan yang sangat dominan dalam meningkatkan tingkat kesejahteraan sebuah kelompok, keluarga, maupun individu, maka di negeri ini memang semakin mengarah kepada keadaan sosial "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Pemerintah tidak mampu memberikan sebuah keadaan yang bisa tergolong adil untuk semua warga negara.
Itu jenjang pendidikan di tingkat dasar. Bagaimana dengan tingkat pendidikan di Perguruan Tinggi misalnya. Ternyata disitu malah jauh lebih kurang jelas aturan pembiayaannya. Ada istilah subsidi silang, tapi aku tidak begitu yakin itu bisa berjalan sesuai apa yang digembar-gemborkan oleh pihak perguruan tinggi.
Bisakah anda membayangkan bahwa ada jalur masuk ke Perguruan Tinggi Negeri yang mematok uang masuk bahkan sampai 400 jutaan? Iyah..., Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Negeri ini. Sebagai orang kecil, aku sangat tidak bisa mengerti keadaan itu. Dan akan lebih tidak bisa mengerti lagi, alasan orang menempuh jalur itu. "Mendingan Kuliah di Luar Negeri yang jelas-jelas kwalitasnya lebih baik", demikian aku berpandangan. Uang masuk 200 jutaan, bisa menyekolahkan beberapa orang ke luar negeri, termasuk ke negara yang berbiaya hidup dan pendidikan tinggi seperti Jepang.
Sepertinya dunia pendidikan negeri ini memang lagi tidak jelas. Pendidikan gratis masih sebatas menjadi jorgan politik penarik pemilih dikala kampanye. 20% APBN diarahkan ke sektor pendidikan sebagaimana diamanahkan oleh Undang-Undang, pun masih belum mampu direaliasasikan, alias Undang-undang tentang hal ini sendiri masih dikhianati. Kalau alasannya, APBN yang sangat terbatas, buktinya masih banyak penyaluran anggaran yang bisa digolongkan tidak urgen. Belum lagi, anggaran yang dikorupsi oleh berbagai oknum, baik terang-terangan ataupun secara halus, sangat tergolong tidak sedikit.
Mau mengubah nasib bangsa ini, perhatikan pendidikan. Tanpa itu, jangan berharap akan ada perubahan yang berarti. Bahkan sebaliknya, bangsa ini akan semakin terpuruk menjadi bangsa kuli yang hanya bisa menjadi penonton di tingkat dunia. Tingkat kemisikinan hanya akan makin membengkak. BBM akan terasa makin mencekik leher. Harga sembako akan makin tidak terjangkau, dan korbannya hampir pasti mereka-mereka yang tidak mampu mengecap pendidikan yang mahalnya naudzubillah itu.
Yang pasti, aku masih pusing, Farhan mau sekolah di mana. Hiks.....!!!
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_933_2008_05
Oleh sha ( 16 Mei 2008 10:26:59 )
berkunjuuuuung..:) smoga farhan-nya cpt dpt sekolah. amin.
Oleh Premang ( 16 Mei 2008 13:31:53 )