Mekarkan Bunga Sendiri
11-06-2008
Beberapa tahun yang lalu, bahkan mungkin sampai hari ini, saudara dekat suka membanding-bandingkan keadaan aku dengan saudara-saudara yang lain. Dan hampir semuanya berwujud keduniaan.
"Akh...., dah sekolah tinggi-tinggi, tapi gak punya apa-apa. Lihat tuh kakak kamu"
Seperti itulah kadang warna sindiran yang tidak jarang menyelinap memasuki telinga ini.
Kadang muncul juga rasa kekesalan. Namanya juga manusia, masih terbentuk oleh berbagai macam rasa yang salah satunya adalah emosi.
"Naik bis ke kantor? Jauh-jauh sekolah ke luar negeri", salah satu nada sinis yang pernah aku dengar, dan secara spontan aku respon dengan sedikit emosi.
"Aku enjoy-enjoy aja, koq kamu yang kek cacing kepanasan?", balasku dengan suara relatif besar tanda emosi.
Aku berperndapat bahwa tiap orang, jalan dengan suratan takdirnya masing-masing. Tidak mungkin bisa menyamai orang lain. tapi tentu semua punya peranan. Biarkanlah hidup jalan apa adanya, tanpa memaksakan diri jadi orang lain, semisal berwujud positif pun itu.
Dalam sebuah lagunya, sekelompok grup musik pernah mengibaratkan masing-masing individu ini laksana setangkai bunga yang berbeda. Masing-masing pasti punya aroma dan warna serta bentuk yang tidak sama. "Apapun warnamu, tugasmu adalah memekarkan bungamu sendiri", demikian pesannya dalam lagu tersebut. Tidak perlu menjadi "nomor satu", namun kalau bisa jadilah "hanya satu". Keunikan tiap individu membereikan peluang untuk menjadi "hanya satu" tersebut. Intinya, tidak perlu ikut-ikutan, karena dengan itu, justru potensi yang ada dalam diri, yang seharusnya justru bisa melengkapi keragaman kehidupan sosial, malah jadi tidak berkembang.
Berkaitan dengan hal ini, aku jadi teringat sebuah pesan-pesan kuno dari negeri sakura.
Tanin to hikaku shite, tanin ga jibun yori sugureteita to shitemo, soreha hazi dehanai.
Shikasi, kounen no jibun yori kotoshi no jibun ga sugurete inai noha rippana hazi da.
Bila membandingkan dirimu dengan orang lain, lalu anda mendapatkan orang lain lebih unggul, itu bukanlah sesuatu yang patut membuatmu malu. Akan tetapi, bila anda membandingkan dirimu sekarang dengan dirimu sendiri di masa lalu, lalu disana kamu temukan dirimu sekarang tidak lebih baik dari dirimu di masa lalu, maka sesungguhnya itulah malu yang sangat besar.
Jadi...., biarkan hidup ini jalan, tanpa dibayang-bayangi oleh kehebatan orang lain. Terfokuslah kepada usaha untuk memekarkan bunga sendiri, tanpa dipengaruhi oleh warna bunga lain. Barometer kesuksesan bukanlah perbandingan dengan orang lain, melainkan diri sendiri, perbandingan kemarin dan hari ini, hari ini dan besok, dan demikianlah seterusnya. Dengan itu, tidak akan ada lagi kekhawatiran dan ketakutan yang diluar kendali diri kita masing-masing.
"Akh...., dah sekolah tinggi-tinggi, tapi gak punya apa-apa. Lihat tuh kakak kamu"
Seperti itulah kadang warna sindiran yang tidak jarang menyelinap memasuki telinga ini.
Kadang muncul juga rasa kekesalan. Namanya juga manusia, masih terbentuk oleh berbagai macam rasa yang salah satunya adalah emosi.
"Naik bis ke kantor? Jauh-jauh sekolah ke luar negeri", salah satu nada sinis yang pernah aku dengar, dan secara spontan aku respon dengan sedikit emosi.
"Aku enjoy-enjoy aja, koq kamu yang kek cacing kepanasan?", balasku dengan suara relatif besar tanda emosi.
Aku berperndapat bahwa tiap orang, jalan dengan suratan takdirnya masing-masing. Tidak mungkin bisa menyamai orang lain. tapi tentu semua punya peranan. Biarkanlah hidup jalan apa adanya, tanpa memaksakan diri jadi orang lain, semisal berwujud positif pun itu.
Dalam sebuah lagunya, sekelompok grup musik pernah mengibaratkan masing-masing individu ini laksana setangkai bunga yang berbeda. Masing-masing pasti punya aroma dan warna serta bentuk yang tidak sama. "Apapun warnamu, tugasmu adalah memekarkan bungamu sendiri", demikian pesannya dalam lagu tersebut. Tidak perlu menjadi "nomor satu", namun kalau bisa jadilah "hanya satu". Keunikan tiap individu membereikan peluang untuk menjadi "hanya satu" tersebut. Intinya, tidak perlu ikut-ikutan, karena dengan itu, justru potensi yang ada dalam diri, yang seharusnya justru bisa melengkapi keragaman kehidupan sosial, malah jadi tidak berkembang.
Berkaitan dengan hal ini, aku jadi teringat sebuah pesan-pesan kuno dari negeri sakura.
Tanin to hikaku shite, tanin ga jibun yori sugureteita to shitemo, soreha hazi dehanai.
Shikasi, kounen no jibun yori kotoshi no jibun ga sugurete inai noha rippana hazi da.
Bila membandingkan dirimu dengan orang lain, lalu anda mendapatkan orang lain lebih unggul, itu bukanlah sesuatu yang patut membuatmu malu. Akan tetapi, bila anda membandingkan dirimu sekarang dengan dirimu sendiri di masa lalu, lalu disana kamu temukan dirimu sekarang tidak lebih baik dari dirimu di masa lalu, maka sesungguhnya itulah malu yang sangat besar.
Jadi...., biarkan hidup ini jalan, tanpa dibayang-bayangi oleh kehebatan orang lain. Terfokuslah kepada usaha untuk memekarkan bunga sendiri, tanpa dipengaruhi oleh warna bunga lain. Barometer kesuksesan bukanlah perbandingan dengan orang lain, melainkan diri sendiri, perbandingan kemarin dan hari ini, hari ini dan besok, dan demikianlah seterusnya. Dengan itu, tidak akan ada lagi kekhawatiran dan ketakutan yang diluar kendali diri kita masing-masing.
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1002_2008_06