Anda disini : TOP >> Dunia Keluarga >> Maafkan Aku Sayang...
Maafkan Aku Sayang...
Ada hal menarik dari ulah si Farhan, pas aku pulang kerja. Kalau dia ada di rumah, hampir pasti akan berlari keluar menjemput, tatkala klakson dah aku nyalain. Dan langsung ikutan naik, walau hanya sampai ke garasi.

Yang lucu, tatkala dia dapat prestasi di sekolahan, mendapatkan piala misalnya. Dia akan datang berlari-lari sambil menenteng itu piala. "Aku dapet piala dong Pa". Dan paling aku jawab, "wah...Farhan hebat dong". Maklum pulang kerja dah capek, jadi kadang pujian cuman berhenti disitu. Kalau hati lagi agak ceria, aku sambung dengan candaan, "Anak papa geto looohhh...".

Kemarin, koleksi pialanya bertambah lagi satu. Dan aku lihat, ini piala paling gede dari sekian piala yang berhasil dia bawa ke rumah. Judulnya, "Juara 3 lomba baca Fatihah se kota Bekasi". Lomba itu diadakan beberapa bulan yang lalu di Ancol, tapi pialanya baru nyampe sekarang.

Aku masuk rumah, baru kelihatan piala itu terletak di atas meja. Spontan muncul rasa sedih di dada ini. "Pasti dia pengen memamerkan itu ke aku", pikirku. Namun sayang, karena sebuah urusan, aku bisa pulang ke rumah tatkala dia sudah terlelap. Rasa penyesalan secara tak sengaja, menggeliat muncul dari dalam hati. Kenapa hari ini aku pulang agak terlambat? :( "Maafkan aku sayang...", pintaku dalam hati.

Subuh-subuh, tatkala aku sedang bersiap-siap pergi kerja, pintu kamar diketok halus dari luar. "paaa....., bukain", terdengar suara lembut dari luar. "Iyah...", jawabku sambil bergegas membuka pintu kamar, dan di depan pintu sudah berdiri si Farhan masih dengan pakaian tidurnya, sembari menenteng piala yang dia terima kemarin. Aku tersenyum menyambutnya.

"Aku dapet piala lagi dong pa", ujarnya.
"Farhan memang hebat. Piala apaan itu?", aku balik bertanya.
"Piala juara tiga bla bla bla...", jawabnya disertai senyum penuh rasa bangga.
Kucium keningnya sekali, sambil berucap, "hebat!".

Terasa banget kalo dia memang pengen sekali "menyombongkan diri" dihadapanku setiap dia berprestasi, dapet piala. Karena tidak sempat aksi itu dilakukan kemarin karena aku yang pulang terlambat, diusahakan bangun subuh-subuh untuk sekedar pameran. Karena dia tau, aku berangkat pagi-pagi sekali ke kantor. Kalau tidak mencegat aku dengan cara begitu, kemungkinan mendapatkan moment untuk "laporan" akan makin tertunda.

Mungkin ada rasa kepuasan tersendiri buatnya, bila berprestasi, dan aku memuji-nya. Makanya aku merasakan, betapa kemarin sebelum tertidur, dia sangat berharap aku bisa cepat pulang, untuk bisa memamerkan tambahan koleksi pialanya itu. Pasti dia tertidur dalam keadaan kecewa, aku terlambat pulang. Maafkan aku sayang...! *premanG sedikit melow...*


Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1016_2008_06