Anda disini : TOP >> Dunia Aneh >> Belajar Menyukai Pahit
Belajar Menyukai Pahit
Disebuah kesempatan makan malam samabeberapa orang teman Jepang, ada kejadian sedikit aneh, atau lebih pas dibilang percakapanngga penting tapi bikin mikir. SiJepang, tersenyum sambil terkaget-kaget tatkala teman Indonesia ,maksudnya aku, memasukkan se-sachet dua sachet gula ke dalam cangkirkopinya ( set...set begitulah bunyinya saat gula masuk ke cangkir kopi :p)

"Gak apa-apa tuh?", kira-kira demikian pertanyaan si Jepang dalam mimik tidak percayanya.
"Mang napa?", tanyaku tentu dalam bahasa Tarzan juga ( jangan ngayal aku lagi pake celana style tarzan ya).
"Pasti kerasa kek minum gula aja tuh, dengan memasukkan gula sebanyak itu", sambungnya.
"Mungkin buat lidah anda, itu akan terasa manis, bahkan manis sekali.Tapi bagi mereka, ukuran gula seperti itu, baru pas buat secangkirkopi", aku mulai menjelaskan, padahal sedikit berbau pembenaran terhadap apa yang aku lakukan itu.

OrangIndonesia itu pada umumnya cenderung suka yang manis-manis. Aku dulumungkin termasuk salah satunya. Makanya, tatkala terbiasa minum kopimisalnya di luar Indonesia ( luar pager kalee), lalu pulang kampung,dan disuguhi segelas teh, benar-benar terasa sekali kadar gulanyatinggi gak ketulungan. Benar seperti minum air gula saja rasanya(jangan-jangan air teh manis kek gini di kampungku doang). Danjujur, bahkan kadang terasa seperti pengen muntah dikarenakan terasaterlalu manis. Air liur tidak enak, mengalir dalam mulut ini. Sampaisedikit terbiasa kembali.

Pada prinsip-nya, memang ada perubahan rasa yang lidah ini alami.Kalau dulu, pisang matang yang di-keringkan(aku gak tau namanya),terasa pas di mulut ini. Sekarang, lidah ini merasakan itu terlalumanis. Terlalu manis, artinya tidak enak untuk dicicipi. Karena memangapapun itu, lebih enak yang sedang-sedang saja ( kek syair lagu dangdut "yang sedang sedang aja"). Sebaliknya, secangkirkopi, lebih terasa nikmat kalau tidak dibubuhi gula, atau kalaupun adacuman sedikit. Artinya, kenikmatan di lidah ini bergeser dari yangmanis-manis menjadi yang sedikit pahit. Karena khas kopi itu ya, pahitnya kan?

Apakah itu karena pengaruh lingkungan, atau karena kedewasaan dalamberpikir ( bahasa halus dari pengakuan bahwa dah berumur maksudnyatuwir ) bahwa yang pahit-pahit itu cenderung berwujud obat, sementarayang manis-manis itu, cepat atau lambat, mengundang berbagai macampenyakit. Entahlah. Yang pasti, obat itu pada umumnya pahit. Sementarayang manis-manis itu, cuma enak pas berada dalam mulut, diresapi oleharea lidah yang peka terhadap rasa manis.

Bisa jadi karena pengalaman selama ini. Tatkala ada keluhan akankesehatan tubuh, yang disalahkan oleh dokter itu makanan, "janganterlalu makan AAAA". Sementara AAA itu, cenderung kepada yangmanis-manis. So pasti, tidak mutlak dan ekstrem memang, tapi sekalilagi, kecenderungan. Makanya tak heran, nenek saya yang suka makanparia dulu, sampai usia 100-an, seperti tidak pernah mengalamisakit-sakitan yang berarti.

Iyah...., dulu aku paling tidak suka yang pahit-pahit. Jadi apa-apamesannya yang manis. Padahal yang pahit-pahit itu sebetulnya kalausudah terbiasa, tidak akan terasa lagi pahitnya. Karena belum terbiasaaja, makanya merasa tidak kuat. Sementara yang manis-manis itu, sampaikapanpun relatif lebih dekat ke penyakit.

Enak sesaat di tenggorokan, tapi akibatnya kurang bagus seterusnya,dan sampai kapanpun akan tetap gak bagus. Itulah si manis. Dan siPahit, awalnya memang menggigit lidah, namun akan berangsur-angsurterbiasa. Dan yang paling pasti, cenderung jadi obat. Kalau aku,sepertinya sudah mulai memilih yang pahit. Anda sendiri cenderungmemilih yang mana? (afslm)

Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1021_2008_06