Basri, Ganbatte!
15-07-2008
Aku benar-benar kaget, tengah malam ada telpon dari seorang cowo'. Ketika aku angkat, dari seberang sana, terdengar suara yang sepertinya aku kenal, namun serasa sudah lama tidak mendengar suara itu.
Dengan suara lesu, mulailah dia ngoceh, sementara aku, untuk membuka mulut saja malasnya minta ampun. "Napa juga HP aku tidak silent-kan yah?", pikirku dalam hati.
Basri namanya. Teman sepermainan waktu aku masih sekolah di kampung dulu. Usianya terpaut 2 tahun di bawah-ku, namun hubungan pertemananku dengannya memang terbilang sangat akrab. Kemana-mana hampir selalu bersama.
"Dari mana dapet nomor telpon aku?", kataku dengan nada sedikit ketus.
"Oh..., mang kamu tidak mau aku hubungi? Wah... Sudah merasa jadi orang gede, sampe teman lama yang menghubungi sudah merasa terganggu?", jawabnya tak kalah sangar.
"Bukan begitu.... Aku nih sudah tidur", ujarku dengan nada agak melemah merasa diri diperingati sama teman lama.
Dia memulai pertanyaan tentang keadaanku sekarang. Tentang anak-anak, dan istri atau pacar. Kujawab seadanya, walau dalam hati ini ada juga perasaan gembira dihubungi sama teman lama yang sudah putus kontak. Cerita pun mengalir bak dikomando. Film zaman aku masih di kampung, dengan lancar tertayangkan satu persatu. Terasa ada kerinduan dalam dada ini kembali ke masa kecil, hidup lepas tanpa beban dan tanggungjawab berarti.
Akhirnya Basri memulai curhatannya. Konon, dia baru beberapa bulan diangkat jadi PNS di sebuah kampung terpencil di Sulawesi sana. Usianya sudah terlalu matang untuk mencari pasangan hidup. Dan gayung itu bersambut, tatkala dia pertama kali diangkat jadi PNS itu.
Baru 1 bulan ditempatkan, dia sudah keburu ""cinta mati" sama teman kantor yang warga asli di kampung itu. Dan kedua belah pihak sudah sepakat untuk membina keluarga, toh dari segi biaya hidup, mereka tidak perlu khawatir lagi.
"Apa...? Mau kawin? Cepet banget...", Basri menirukan respon kaget seorang teman lama juga tentang tanggapannya mengenai niatnya untuk segera menikahi temannya itu(sebut saja namanya Ria). Sang teman itu meminta Basri untuk berhati-hati. Kalau bisa kalian harus saling kenal luar dalam, ujarnya.
Mendengar wejangan dari teman ini, Basri jadi mikir. Belum lagi ongkos untuk kawin juga belum ada. Maklum, orang tua laki-laki Basri dah meninggal tatkala masih dalam kandungan. Pikirannya kalut, berbagai pertimbangan datang satu-satu merasuki pikirannya. Merenung beberapa hari, akhirnya dia mengambil keputusan, "Aku kawini dia secepatnya", sebuah pilihan yang termasuk berani dan beresiko. Maklum, sementara dia sendiri lahir dari sebuah keluarga sangat sederhana, tidak pernah merasakan elusan tegar nan sayang seorang bapak, calon istrinya ini juga adalah anak orang terpandang di daerah tersebut.
Keputusan pun diambil, lalu minjam ongkos sana-sini. Akhirnya bulan ke-4 Basri menjadi PNS, sudah berhasil memasuki kehidupan berkeluarga. Dan inilah awal dari sebuah kisah pilu seorang Basri.
Memasuki bulan ke-3 perkawinan mereka, istrinya minta cerai. Alasannya mulai dari "tidak mampu menafkahi", serta beberapa macam alasan lainnya. Ternyata sang istri tidak bisa menerima kalau gaji bulanan Basri tinggal beberapa ratus ribu, dikarenakan banyaknya potongan untuk membayar utang untuk biaya pernikahan dulu. "Padahal kita sudah sepakat sebelumnya", keluhnya lewat telpon dengan nada sedih. Sekitar 1 bulan yang lalu, mereka resmi cerai.
Mendengar ceritanya, aku ikutan jadi melow, sedih rasanya. Basri adalah teman karib sepermainanku dulu. Apalagi setelah dia menceritakan, baru 1 bulanan setelah kawin, sang istri langsung berubah. Mengikuti berbagai kegiatan sang istri punya waktu, namun waktu untuk suami sudah hampir tak ada. Alasannya sibuk ini dan sibuk itu. Janji sehidup semati tatkala awal masa pacaran ternyata sudah mulai meninggalkan jiwa sang istri. "Mungkin dia sudah mulai punya sumber kesenangan tersendiri", ujarnya tentang istrinya.
Dia tetap bercerita panjang lebar berbagai kenyataan tentang perubahan mantan istrinya. "Iyah..., ternyata wanita bisa berubah segampang itu", keluhnya masih dalam keluguannya.
Kini, Basri lagi berusaha keras menghapus rasa sakit hati, malu & kesedihan yang dideritanya. Gaji bulanan juga sudah hampir habis diisap oleh potongan-potongan utang untuk biaya perkawinan dulu. Itupun, sampai detik-detik terakhir, masih berusaha untuk mempertahankan keutuhan keluarganya.
"Aku benar-benar sayang dia"
"Pengadilan sudah memenuhi gugatan mantan istri kamu. Kamu secara resmi sudah ditinggalkan istri. Itu sebuah kenyataan, yang sepahit apapun harus rela diterima", balasku.
"Iyah juga sih", ujarnya dengan suara kecil tak bertenaga.
"Yah udah, mo diapa lagi?", Aku berusaha menghiburnya.
Basri sepertinya memang masih merasa sulit untuk bisa melupakan mantan istrinya itu. Perlakuan yang diterima, ternyata belum mampu menghapus rasa sayang yang ada di dada. Belum lagi, mantan istrinya konon sudah pacaran dengan seorang duda paruh baya.
"Kamu bisa mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan waktu?", ujarku menyarankan untuk mencari kegiatan agar tidak larut dan larut dalam kesedihan.
Basri pun rupanya, dah mulai memikirkan masa depannya. Menurutnya, dia berniat menyerahkan SK PNS-nya sebagai jaminan di Bank, buat modal usaha agrobisnis. Semuanya sudah diperhitungkan masak-masak. "Saya rela menderita termasuk dari segi kekurangan uang dalam jangka waktu 4 tahun ke depan", ujarnya. "setelah itu, aku yakin usahaku ini sudah akan membuahkan hasil", tambahnya.
Aku hanya bisa mendoakan, agar Basri tetap bisa survive menghadapi segala cobaan hidup yang menimpahnya. Basri...., Ganbatte! Tidak ada usaha yang sia-sia, termasuk usaha melupakan rasa sayang yang terkhianati itu.
Dengan suara lesu, mulailah dia ngoceh, sementara aku, untuk membuka mulut saja malasnya minta ampun. "Napa juga HP aku tidak silent-kan yah?", pikirku dalam hati.
Basri namanya. Teman sepermainan waktu aku masih sekolah di kampung dulu. Usianya terpaut 2 tahun di bawah-ku, namun hubungan pertemananku dengannya memang terbilang sangat akrab. Kemana-mana hampir selalu bersama.
"Dari mana dapet nomor telpon aku?", kataku dengan nada sedikit ketus.
"Oh..., mang kamu tidak mau aku hubungi? Wah... Sudah merasa jadi orang gede, sampe teman lama yang menghubungi sudah merasa terganggu?", jawabnya tak kalah sangar.
"Bukan begitu.... Aku nih sudah tidur", ujarku dengan nada agak melemah merasa diri diperingati sama teman lama.
Dia memulai pertanyaan tentang keadaanku sekarang. Tentang anak-anak, dan istri atau pacar. Kujawab seadanya, walau dalam hati ini ada juga perasaan gembira dihubungi sama teman lama yang sudah putus kontak. Cerita pun mengalir bak dikomando. Film zaman aku masih di kampung, dengan lancar tertayangkan satu persatu. Terasa ada kerinduan dalam dada ini kembali ke masa kecil, hidup lepas tanpa beban dan tanggungjawab berarti.
Akhirnya Basri memulai curhatannya. Konon, dia baru beberapa bulan diangkat jadi PNS di sebuah kampung terpencil di Sulawesi sana. Usianya sudah terlalu matang untuk mencari pasangan hidup. Dan gayung itu bersambut, tatkala dia pertama kali diangkat jadi PNS itu.
Baru 1 bulan ditempatkan, dia sudah keburu ""cinta mati" sama teman kantor yang warga asli di kampung itu. Dan kedua belah pihak sudah sepakat untuk membina keluarga, toh dari segi biaya hidup, mereka tidak perlu khawatir lagi.
"Apa...? Mau kawin? Cepet banget...", Basri menirukan respon kaget seorang teman lama juga tentang tanggapannya mengenai niatnya untuk segera menikahi temannya itu(sebut saja namanya Ria). Sang teman itu meminta Basri untuk berhati-hati. Kalau bisa kalian harus saling kenal luar dalam, ujarnya.
Mendengar wejangan dari teman ini, Basri jadi mikir. Belum lagi ongkos untuk kawin juga belum ada. Maklum, orang tua laki-laki Basri dah meninggal tatkala masih dalam kandungan. Pikirannya kalut, berbagai pertimbangan datang satu-satu merasuki pikirannya. Merenung beberapa hari, akhirnya dia mengambil keputusan, "Aku kawini dia secepatnya", sebuah pilihan yang termasuk berani dan beresiko. Maklum, sementara dia sendiri lahir dari sebuah keluarga sangat sederhana, tidak pernah merasakan elusan tegar nan sayang seorang bapak, calon istrinya ini juga adalah anak orang terpandang di daerah tersebut.
Keputusan pun diambil, lalu minjam ongkos sana-sini. Akhirnya bulan ke-4 Basri menjadi PNS, sudah berhasil memasuki kehidupan berkeluarga. Dan inilah awal dari sebuah kisah pilu seorang Basri.
Memasuki bulan ke-3 perkawinan mereka, istrinya minta cerai. Alasannya mulai dari "tidak mampu menafkahi", serta beberapa macam alasan lainnya. Ternyata sang istri tidak bisa menerima kalau gaji bulanan Basri tinggal beberapa ratus ribu, dikarenakan banyaknya potongan untuk membayar utang untuk biaya pernikahan dulu. "Padahal kita sudah sepakat sebelumnya", keluhnya lewat telpon dengan nada sedih. Sekitar 1 bulan yang lalu, mereka resmi cerai.
Mendengar ceritanya, aku ikutan jadi melow, sedih rasanya. Basri adalah teman karib sepermainanku dulu. Apalagi setelah dia menceritakan, baru 1 bulanan setelah kawin, sang istri langsung berubah. Mengikuti berbagai kegiatan sang istri punya waktu, namun waktu untuk suami sudah hampir tak ada. Alasannya sibuk ini dan sibuk itu. Janji sehidup semati tatkala awal masa pacaran ternyata sudah mulai meninggalkan jiwa sang istri. "Mungkin dia sudah mulai punya sumber kesenangan tersendiri", ujarnya tentang istrinya.
Dia tetap bercerita panjang lebar berbagai kenyataan tentang perubahan mantan istrinya. "Iyah..., ternyata wanita bisa berubah segampang itu", keluhnya masih dalam keluguannya.
Kini, Basri lagi berusaha keras menghapus rasa sakit hati, malu & kesedihan yang dideritanya. Gaji bulanan juga sudah hampir habis diisap oleh potongan-potongan utang untuk biaya perkawinan dulu. Itupun, sampai detik-detik terakhir, masih berusaha untuk mempertahankan keutuhan keluarganya.
"Aku benar-benar sayang dia"
"Pengadilan sudah memenuhi gugatan mantan istri kamu. Kamu secara resmi sudah ditinggalkan istri. Itu sebuah kenyataan, yang sepahit apapun harus rela diterima", balasku.
"Iyah juga sih", ujarnya dengan suara kecil tak bertenaga.
"Yah udah, mo diapa lagi?", Aku berusaha menghiburnya.
Basri sepertinya memang masih merasa sulit untuk bisa melupakan mantan istrinya itu. Perlakuan yang diterima, ternyata belum mampu menghapus rasa sayang yang ada di dada. Belum lagi, mantan istrinya konon sudah pacaran dengan seorang duda paruh baya.
"Kamu bisa mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan waktu?", ujarku menyarankan untuk mencari kegiatan agar tidak larut dan larut dalam kesedihan.
Basri pun rupanya, dah mulai memikirkan masa depannya. Menurutnya, dia berniat menyerahkan SK PNS-nya sebagai jaminan di Bank, buat modal usaha agrobisnis. Semuanya sudah diperhitungkan masak-masak. "Saya rela menderita termasuk dari segi kekurangan uang dalam jangka waktu 4 tahun ke depan", ujarnya. "setelah itu, aku yakin usahaku ini sudah akan membuahkan hasil", tambahnya.
Aku hanya bisa mendoakan, agar Basri tetap bisa survive menghadapi segala cobaan hidup yang menimpahnya. Basri...., Ganbatte! Tidak ada usaha yang sia-sia, termasuk usaha melupakan rasa sayang yang terkhianati itu.
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1053_2008_07
