Basri, Engkau Sahabatku
10-08-2008
Entah karena apa, akhir-akhir ini premanG tidak ada mood sama sekali untuk nulis. Bahan di kepala serasa dah luber karena kebanyakan, tapi tidak pernah sampai pada tahap tertuangkan dalam sebuah tulisan.
Beberapa hari yang lalu, Basri, sahabat karib masa kecilku nelpon lagi malam-malam. Aku tau dari nada bicaranya, dia pengen curhat lagi. Dan aku memang sudah berniat melayani dia sebisaku. Wong dia adalah sahabat karibku. Deritanya, adalah bagian dari deritaku juga, minimal dalam bathin ini.
Kesabaranku mendengarkan keluh kesahnya, sepertinya membuat dia merasa nyaman menumpahkan segala uneq-uneq-nya. Agak lucu juga, di usia segini masih ada unsur melow2-an. Tapi yah..., namanya manusia. Dan Basri..., engkau memang sahabatku, dulu dan juga kini walau sudah belasan tahun tidak pernah bertatap muka lagi.
"Aku dah sangat bersabar memberikan kebebasan buat dia untuk mencari kesenangan dengan teman-temannya", ujarnya memulai kisah sedihnya. Lalu dia pun melanjutkan ceritanya, sementara aku hanya menjadi pendengar setia. Paling sesekali aku berucap, "sabar yah..., semua akan ada hikmahnya". "Tuhan maha adil dan maha mengetahui semuanya", kataku soq alim.
"Memang sudah berkali-kali dia menyepelehkan aku. Katanya mau main ke teman, tapi gak pulang-pulang, bahkan sampai pagi. Dan aku tidak mau mencari tau tentang hal yang sebenarnya, walau dari langkahnya aku sudah bisa menduga, ada yang tidak beres", curhatannya makin lancar.
Kadang, tatkala Basri lagi duduk-duduk di ruang tamu malam-malam, tiba-tiba dia minta izin keluar, ada perlu sama teman. "Dulu malam-malam kalo aku minta 'sesuatu', tanpa ba bi bu, pasti berusaha melayani aku. Saat-saat terakhir, terlampau banyak alasan untuk menundanya, sampai aku melupakan kemauanku itu.", keluhnya.
Kalau diajak bicara, alasannya banyak. Dan Basri katanya berusaha mengerti semua alasan itu, walau kadang banyak yang tidak masuk akal. "Aku juga bukan orang yang terlalu bodoh, tidak bisa mikir apa-apa", katanya seakan memberikan isyarat bahwa dia sebetulnya mengerti kalau hanya dipecundangi.
Semakin aku mendengarkan ceritanya, semakin tinggi rasa iba di hati ini. Dalam hati aku berpikir, memang benar sifat dasar manusia itu egois. Aku bisa menangkap, betapa Basri merasa sedih atas perlakuan istri-nya itu, namun tetap berusaha memahami. "Aku terlalu sayang sama dia", demikian alasannya tatkala aku menanyakan kenapa tidak tegas. "Aku takut kehilangan dia", tambahnya.
"Tapi kan sudah jelas-jelas kamu dikhianati", ujarku dengan suara keras merasa tidak bisa menerima perlakuan istrinya terhadap Basri. Aku juga heran, kenapa bukan aku yang ngalami, tapi aku yang emosi. Hihihihi.....
"Lalu apa yang membuat kamu akhirnya mau menerima untuk pisah?", tanyaku mendesaknya.
"Sebetulnya sudah beberapa kali dia minta cerai, tapi aku diamin aja, sampai dia kembali sadar dan minta maaf lagi atas kesalahannya", ucapnya dengan suara datar.
"Kamu terlalu baik", balasku.
"Abis mau apalagi. Wong aku memang sayang dia", balasnya memancing emosiku.
"Emang gak ada lagi wanita lain yang lebih baik?", ujarku kembali dengan nada keras.
"Tau nih. Aku seperti di-hipnotis. Sudah tau keadaannya seperti itu, tapi tetap tidak bisa menghapus rasa sayang dalam hati ini", ujarnya tanpa rasa bersalah.
Aku hanya bisa tertawa sinis mendengarnya.
"Kamu tuh masih sayang, sampai saat ini walau sudah cerai", tebakku sedikit memaksa. Dan tanpa dinyana Basri menjawab, "Iyah, aku masih sayang".
Benar-benar kacau. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Sudah diperlakukan seperti itu, sudah dikhianati, masih belum bisa menghapus rasa sayangnya. Apa rahasia Sang Khalik di balik itu semua?
Malam sebelum Basri memutuskan untuk mengiyakan perceraian mereka, sang bini kembali pamit sebentar ada perlu sama teman. "Aku keluar sebentar. Ada perlu sama teman.", ujar sang bini sambil berlalu tanpa menunggu respon dari suaminya, Basri.
Basri hanya bisa mengucapkan katan-kata 'iyah' dalam hati. Dan dengan bermodalkan, "keluar SEBENTAR" itu, Basri tetap menunggu sampai istrinya pulang. Detik berganti jam, sang bini belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai pada jam pergantian hari, Basri masih setia menunggu kepulangan sang bini. Diperkirakan jam 2-an dini hari, Basri tertidur di sofa tempat dia duduk menunggu.
Azan subuh berkumandang sekitar jam 4:40-an, Basri terjaga dari tidurnya. Sebelum ngambil air wudhu untuk sholat subuh, dia masih sempat melongok masuk ke kamar tidur mereka, ternyata kamar itu masih kosong. Sang istri belum juga pulang. Basri mulai gelisah. Sambil menunggu kepulangan sang istri, dia mempersiapkan bahan-bahan pekerjaannya. Menjelang jam masuk kantor, terpaksa dia pergi ke kantor yang memang cuman beberapa meter dari tempat tinggalnya, sementara sang bini belum juga pulang.
Dari balik jendela, dia melihat istrinya datang terlambat ke kantor sekitar setengah jam-an.
Jam istirahat siang, mereka selalu kembali ke rumah. Dan saat itulah, terjadi lagi 'pertengkaran' itu. Basri minta penjelasan dari sang bini. Dan karena dia pikir penjelasan sang bini hampir tidak masuk akal, dia minta agar sang bini jujur. Sang bini tetap ngotot. Sementara, Basri memang sengaja tidak mengungkit bagaimana dia menunggu sang bini sampai jam 2 dini hari. Bagaimana dia minta sesuatu, dan dijawab dengan berbagai alasan. Sebetulnya Basri tetap cool, walau memang berusaha sekali minta penjelasan sama istrinya. Akhirnya habisnya waktu istirahat siang, menutup ronde pertengkaran itu.
Dan ronde berikutnya berlanjut setelah mereka pulang kerja. Tidak bisa memberikan penjelasan yang bisa Basri mengerti, sementara Basri-pun seakan mendesak, akhirnya keluar lagi kata-kata sang bini yang sudah berulang kali Basri dengar, "Yah udah..., kita cerai aja. Aku pikir itu lebih baik. Karena kamu tidak bisa mengerti". Basri masih tetap memberikan penjelasan, namun sepertinya sang bini dah bulat 'lagi' milih cerai. Akhirnya Basri mengiyakan.
"Sedih rasanya, tapi aku bisa apa?", ujarnya lewat telpon.
"Udah akh..., lupakan saja", balasku menghiburnya.
"Iyah..., aku akan berusaha sekuat tenaga walau ini terasa berat sekali"
"Hah? Berat sekali? Ngapain? Gak usah mikir-mikir wanita itu lagi", jawabku.
"Aku juga maunya seperti itu, makanya berusaha", sambungnya.
"Paling juga gak cukup setengah tahun, dia dah kawin lagi dengan duda yang ber-mobil Feroza itu", ujarku untuk membuat hati Basri melek.
Iyah..., cerita Basri ini memang hanya satu arah, dari Basri sendiri. Sehingga cenderung subyektif. Tapi bagi aku, tidak ada jalan lain selain Basri harus berusaha melupakan Ria, mantan bini-nya itu. Dan juga bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan seseorang, toh namanya disamarkan.
Dan yang pasti, ada perasaan gembira dalam hari ini, Basri, sahabat karib-ku dari kecil itu, bisa menumpahkan uneq-uneq-nya ke aku. Ceplas-ceplos seakan percaya betul sama aku, padahal kami pernah tidak berhubungan sama sekali dalam kurung waktu belasan tahun. Basri...., engkau masih tetap sahabatku koq. Dan premanG pun kembali melow. "Melow mulu..., capcay deee....", seakan suara si Farhan terdengar sayup-sayup di telinga ini. Xixixixixi.....
Beberapa hari yang lalu, Basri, sahabat karib masa kecilku nelpon lagi malam-malam. Aku tau dari nada bicaranya, dia pengen curhat lagi. Dan aku memang sudah berniat melayani dia sebisaku. Wong dia adalah sahabat karibku. Deritanya, adalah bagian dari deritaku juga, minimal dalam bathin ini.
Kesabaranku mendengarkan keluh kesahnya, sepertinya membuat dia merasa nyaman menumpahkan segala uneq-uneq-nya. Agak lucu juga, di usia segini masih ada unsur melow2-an. Tapi yah..., namanya manusia. Dan Basri..., engkau memang sahabatku, dulu dan juga kini walau sudah belasan tahun tidak pernah bertatap muka lagi.
"Aku dah sangat bersabar memberikan kebebasan buat dia untuk mencari kesenangan dengan teman-temannya", ujarnya memulai kisah sedihnya. Lalu dia pun melanjutkan ceritanya, sementara aku hanya menjadi pendengar setia. Paling sesekali aku berucap, "sabar yah..., semua akan ada hikmahnya". "Tuhan maha adil dan maha mengetahui semuanya", kataku soq alim.
"Memang sudah berkali-kali dia menyepelehkan aku. Katanya mau main ke teman, tapi gak pulang-pulang, bahkan sampai pagi. Dan aku tidak mau mencari tau tentang hal yang sebenarnya, walau dari langkahnya aku sudah bisa menduga, ada yang tidak beres", curhatannya makin lancar.
Kadang, tatkala Basri lagi duduk-duduk di ruang tamu malam-malam, tiba-tiba dia minta izin keluar, ada perlu sama teman. "Dulu malam-malam kalo aku minta 'sesuatu', tanpa ba bi bu, pasti berusaha melayani aku. Saat-saat terakhir, terlampau banyak alasan untuk menundanya, sampai aku melupakan kemauanku itu.", keluhnya.
Kalau diajak bicara, alasannya banyak. Dan Basri katanya berusaha mengerti semua alasan itu, walau kadang banyak yang tidak masuk akal. "Aku juga bukan orang yang terlalu bodoh, tidak bisa mikir apa-apa", katanya seakan memberikan isyarat bahwa dia sebetulnya mengerti kalau hanya dipecundangi.
Semakin aku mendengarkan ceritanya, semakin tinggi rasa iba di hati ini. Dalam hati aku berpikir, memang benar sifat dasar manusia itu egois. Aku bisa menangkap, betapa Basri merasa sedih atas perlakuan istri-nya itu, namun tetap berusaha memahami. "Aku terlalu sayang sama dia", demikian alasannya tatkala aku menanyakan kenapa tidak tegas. "Aku takut kehilangan dia", tambahnya.
"Tapi kan sudah jelas-jelas kamu dikhianati", ujarku dengan suara keras merasa tidak bisa menerima perlakuan istrinya terhadap Basri. Aku juga heran, kenapa bukan aku yang ngalami, tapi aku yang emosi. Hihihihi.....
"Lalu apa yang membuat kamu akhirnya mau menerima untuk pisah?", tanyaku mendesaknya.
"Sebetulnya sudah beberapa kali dia minta cerai, tapi aku diamin aja, sampai dia kembali sadar dan minta maaf lagi atas kesalahannya", ucapnya dengan suara datar.
"Kamu terlalu baik", balasku.
"Abis mau apalagi. Wong aku memang sayang dia", balasnya memancing emosiku.
"Emang gak ada lagi wanita lain yang lebih baik?", ujarku kembali dengan nada keras.
"Tau nih. Aku seperti di-hipnotis. Sudah tau keadaannya seperti itu, tapi tetap tidak bisa menghapus rasa sayang dalam hati ini", ujarnya tanpa rasa bersalah.
Aku hanya bisa tertawa sinis mendengarnya.
"Kamu tuh masih sayang, sampai saat ini walau sudah cerai", tebakku sedikit memaksa. Dan tanpa dinyana Basri menjawab, "Iyah, aku masih sayang".
Benar-benar kacau. Aku tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Sudah diperlakukan seperti itu, sudah dikhianati, masih belum bisa menghapus rasa sayangnya. Apa rahasia Sang Khalik di balik itu semua?
Malam sebelum Basri memutuskan untuk mengiyakan perceraian mereka, sang bini kembali pamit sebentar ada perlu sama teman. "Aku keluar sebentar. Ada perlu sama teman.", ujar sang bini sambil berlalu tanpa menunggu respon dari suaminya, Basri.
Basri hanya bisa mengucapkan katan-kata 'iyah' dalam hati. Dan dengan bermodalkan, "keluar SEBENTAR" itu, Basri tetap menunggu sampai istrinya pulang. Detik berganti jam, sang bini belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai pada jam pergantian hari, Basri masih setia menunggu kepulangan sang bini. Diperkirakan jam 2-an dini hari, Basri tertidur di sofa tempat dia duduk menunggu.
Azan subuh berkumandang sekitar jam 4:40-an, Basri terjaga dari tidurnya. Sebelum ngambil air wudhu untuk sholat subuh, dia masih sempat melongok masuk ke kamar tidur mereka, ternyata kamar itu masih kosong. Sang istri belum juga pulang. Basri mulai gelisah. Sambil menunggu kepulangan sang istri, dia mempersiapkan bahan-bahan pekerjaannya. Menjelang jam masuk kantor, terpaksa dia pergi ke kantor yang memang cuman beberapa meter dari tempat tinggalnya, sementara sang bini belum juga pulang.
Dari balik jendela, dia melihat istrinya datang terlambat ke kantor sekitar setengah jam-an.
Jam istirahat siang, mereka selalu kembali ke rumah. Dan saat itulah, terjadi lagi 'pertengkaran' itu. Basri minta penjelasan dari sang bini. Dan karena dia pikir penjelasan sang bini hampir tidak masuk akal, dia minta agar sang bini jujur. Sang bini tetap ngotot. Sementara, Basri memang sengaja tidak mengungkit bagaimana dia menunggu sang bini sampai jam 2 dini hari. Bagaimana dia minta sesuatu, dan dijawab dengan berbagai alasan. Sebetulnya Basri tetap cool, walau memang berusaha sekali minta penjelasan sama istrinya. Akhirnya habisnya waktu istirahat siang, menutup ronde pertengkaran itu.
Dan ronde berikutnya berlanjut setelah mereka pulang kerja. Tidak bisa memberikan penjelasan yang bisa Basri mengerti, sementara Basri-pun seakan mendesak, akhirnya keluar lagi kata-kata sang bini yang sudah berulang kali Basri dengar, "Yah udah..., kita cerai aja. Aku pikir itu lebih baik. Karena kamu tidak bisa mengerti". Basri masih tetap memberikan penjelasan, namun sepertinya sang bini dah bulat 'lagi' milih cerai. Akhirnya Basri mengiyakan.
"Sedih rasanya, tapi aku bisa apa?", ujarnya lewat telpon.
"Udah akh..., lupakan saja", balasku menghiburnya.
"Iyah..., aku akan berusaha sekuat tenaga walau ini terasa berat sekali"
"Hah? Berat sekali? Ngapain? Gak usah mikir-mikir wanita itu lagi", jawabku.
"Aku juga maunya seperti itu, makanya berusaha", sambungnya.
"Paling juga gak cukup setengah tahun, dia dah kawin lagi dengan duda yang ber-mobil Feroza itu", ujarku untuk membuat hati Basri melek.
Iyah..., cerita Basri ini memang hanya satu arah, dari Basri sendiri. Sehingga cenderung subyektif. Tapi bagi aku, tidak ada jalan lain selain Basri harus berusaha melupakan Ria, mantan bini-nya itu. Dan juga bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkan seseorang, toh namanya disamarkan.
Dan yang pasti, ada perasaan gembira dalam hari ini, Basri, sahabat karib-ku dari kecil itu, bisa menumpahkan uneq-uneq-nya ke aku. Ceplas-ceplos seakan percaya betul sama aku, padahal kami pernah tidak berhubungan sama sekali dalam kurung waktu belasan tahun. Basri...., engkau masih tetap sahabatku koq. Dan premanG pun kembali melow. "Melow mulu..., capcay deee....", seakan suara si Farhan terdengar sayup-sayup di telinga ini. Xixixixixi.....
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1084_2008_08