Anda disini : TOP >> Dunia Puisi >> Jakarta Underkompor, Dilema Komersialisasi
Jakarta Underkompor, Dilema Komersialisasi

Sudah lama premanG menjadi fan setia blogger yang satu ini. Di dunia per-blogger-an, terkenal dengan panggilan Arham_Kendari. Sejak aku menemukan blog beliau di Blogboleh, serasa ada bahan hiburan baru yang aku dapatkan. Sedikit mumet, pasti larinya ke blog beliau.

Aku benar-benar tidak pernah merasa bosan memolototi tiap tulisan maupun karikaturnya. Dan tulisan baru-pun kadang terasa lama sekali baru muncul kembali. Untungnya, berapa kali pun aku baca tulisannya, tidak mampu membuatku bosan. Akibatnya, satu tulisan bisa aku baca berulang-ulang kali, dan masih saja bisa menghibur. Itulah Magic seorang Arham, penggemar gila Siti Nurhaliza itu.

Jujur, kini aku dibikin kecewa olehnya. Berawal dari dibukukannya isi blog beliau secara indie, hingga diterbitkan oleh Gramedia. Jakarta Underkompor, demikian judul buku yang menjadi penyebab menghilangnya "nyanyian" garing seorang Arham dari dunia maya. Sebuah kekecewaan yang sekaligus menggembirakan. Kecewa karena tidak bisa lagi menikmati tulisan-tulisan itu dari internet, gembira karena seorang teman yang aku kagumi, semakin menemukan ruang di dunia komersial. Mungkin besok-besok, sentilan kata-kata neyelekitnya bukan lagi seputar mencuci piring di warung nasi padang, melainkan seputar kiprah beliau di tingkat nasional.


Kembali aku mendapatkan pelajaran, bahwa yang positif pun ada saja ruang-ruang negatif yang menjadi imbasnya. Jakarta Underkompor, menyisakan sedikit kekecewaan terutama buat penggemar setia seorang bujang lapuk asal Kendari, Arham. Komersialisasi, menyeret Arham menjadi orang yang hanya bisa diakses oleh orang yang mampu merogoh kantong buat beli buku.

Awalnya, aku kurang begitu tertarik untuk beli bukunya. Bukannya karena yakin buku tersebut tidaklah se-garing dengan yang digembar-gemborkan, melainkan sedikit merasa bahwa isi buku tersebut sendiri saya sudah hapal di luar kepala. Malah jujur, sebelum beli buku tersebut, aku sudah yakin, pasti mendapat tempat di hati pembaca. Dan perkiraan saya ternyata memang jitu, yang awalnya berlabel, "Best Seller, Maunya sih", menjadi "Best Seller Beneran". Entah kenapa, ada rasa puas dan bahagia muncul dari relung-relung hatiku yang paling dalam.

Aku saban hari mengenalin itu buku kepada teman-temanku. Kalau mau buku bagus nan menghibur, beli Jakarta Underkompor, ujarku sama teman hampir di setiap kesempatan. Atau kata-katanya aku ganti seperti ini, "Ada buku bagus judulnya Jakarta Underkompor, Gak rugi lo beli". Walau kadang mendapat pukulan counter yang sanggup meng-KO leher beton Mike Tyson sekalipun. "Minjem Bukunya dong", salah satu pukulan counter yang telak membuatku tidak bisa ngomong apa-apa. Wong aku sendiri belon beli.

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang teman yang aku kabari tentang Jakarta Underkompor ini memberi kabar, "Aku dah beli bukunya".
"Besok bisa ketemu?", tanya sang teman
"Emang kenapa?"
"Aku mo ngasih bukunya"
"Lah..., aku dah sering baca. Kamu aja yang baca."
"Aku beli 2, satu untuk aku, dan satunya lagi buat kamu. Blon beli kan?", jawabnya menjelaskan.
Guebraksss....., ini orang tau aja aku lagi kere.

Singkat kata, nyampailah itu buku di tangan aku. Saban hari kalau ada kesempatan, aku baca, terasa sudah basi semua. Semuanya sudah aku tau. Namun aneh..., tetap aja pengen baca, dan tetap aja terpingkal-pingkal setiap membaca adegan-adegan yang konyol itu.

Ternyata...., Jakarta Underkomper, yang menjadi dilema karena komersialisasi itu benar-benar tidak pernah membuatku bosan membacanya. Hebat kamu Arham. Semakin bertambah kekaguman saya pada seorang keturunan Bugis yang bermukin di pinggir laut kota kendari tersebut.

*Gambar dicomot dari blognya Arham di Multiply & Wordpress
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1231_2008_11