PremanG Yg Pelit Di Mata Farhan
15-12-2008
PremanG sering dijuluki "pelit" oleh orang-orang. Dalam hati aku hanya berujar, silakan menjudge, toh apa yang ada dalam pikiran anda mungkin tidak sama dengan apa yang aku pikirkan terhadap suatu hal.
Terkait ke"pelit"an itu, khususnya berhubungan dengan uang jajan di Farhan. Dulu, awal-awal hidup berdua ma si Farhan, hampir tidak ada jatah uang jajan buat dia. Kalau ada yang dimaui, lalu diterima akal sehat seorang premanG, minimal dibeliin, lalu diserahkannya dari ruang dapur, seakan-akan itu barang atau makanan dibuat di rumah.
Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, terutama setelah si Farhan dah banyak berteman dengan anak-anak di kampung tempat premanG tinggal. Anak-anak kampung yang jumlahnya sangat banyak, ternyata pada doyan jajan. Dan orangtua mereka pun seakan2 berlomba membekali anak2nya uang jajan. Entah, ada rasa kebanggaan tersendiri, kalau melihat anak2nya "sanggup" jajan lebih banyak.
"Biarin aja mereka jajan banyak. Tapi Farhan gak boleh seperti itu. Yang perlu-perlu aja. Papa-nya Farhan kan gak punya banyak duit", ujarku tatkala Farhan komplen, jatah jajannya sedikit.
ke"pelit"an itu bukan tidak beralasan. Pertama, untuk mengajarkan betapa untuk mendapatkan uang itu tidak gampang, butuh perjuangan. Ujung-ujungnya, agar sang buah hati itu bisa menghargai kerja keras untuk mendapatkan materi tersebut. Kedua, sudah jelas bahwa makanan di rumah, lebih terjamin kebersihannya di banding jajanan di jalanan. Ketiga, salah satu unsur menanamkan disiplin diri. Kedengaran terlalu canggih, tp minimal itu sebuah harapan.
Apa akibat dari penerapan ke"pelit"an seperti itu? Tentu ada. Dan yang pasti, ada baik dan ada juga tentu efek buruk. Aku pikir semuanya juga begitu. Hampir gak mungkin kalau kita hanya mengharapkan efek baiknya doang. Karena kedua potensi itu ada. Dan itu sebuah resiko.
Efek buruknya, kadang Farhan dibilangin ma teman, "Farhan miskin amat sih?". Namanya anak kecil, pertama egonya naik, mau membela diri kalo dia jg gak se-kere kata orang. Tapi setelah aku bilangin agar gak usah peduli apa kata orang masalah itu, lambat laun dia bisa mengerti juga. Sekali lagi "lambat laun". Bahkan karena gak kuat menahan "ejekan" teman, sampai Farhan pernah diam-diam ngambil duit recehan dari mobil. Tapi sekali lagi itu adalah sebuah resiko. Namun setelah kembali diberikan pengertian sedikit demi sedikit, akhirnya dia ngerti juga.
Beberapa hari yang lalu, kebetulan aku jalan2 dan melewati sebuah pasar malam yg tidak begitu jauh dari rumah. Melihat kedap-kedip yang menggoda itu, Farhan merengek minta diajakin masuk. Akhirnya aku menyerah, dan minta Kakaknya yg kerja di rumah nemenin. Dan alhasil, setelah kembali, aku merasa gembira sekali mendengar laporannya. "4 ribu aku pake naik kuda-kudaan. sisanya aku beliin buku. Ini bukunya", ujarnya sambil menyodorkan beberapa buah buku untuk mewarnai.
Kejadian lain, masalah uang jajan di Sekolah. Emang aku ngasihnya seadanya, kembali ke alasan yang aku tulis di awal tadi. Suatu hari, aku gak punya uang kecil, sehingga ngasihnya pecahan yang agak besar. Ketika aku pulang kantor, dengan bersemangat Farhan membawa kembaliannya sambil berujar, "aku cuman jajan seribu. Malas jajannya, Ini kembaliannya", katanya sembari menyodorkan pecahan ribuan 9 lembar. Karena aku tidak terlalu fokus memperhatikan, dia melanjutkan, "kembaliannya aku masukin di dompet Papa yah". Aku hanya bisa berujar, "Iyah", sambil tersenyum dalam hati.
Farhan mungkin termasuk anak yang sangat jarang main ke Mall. Semua juga ada pertimbangannya. Lebih baik main sama teman-teman dekat rumah aja, pikirku. Biarin teman-temannya ikutan masuk main karaoke di rumah. Atau ngutak-atik komputer bersama Farhan. Hampir bebas..., asal abis itu diletakkan pada tempatnya kembali. Dan tidak boleh berisik tatkala aku lagi istirahat di rumah.
Itu juga salah satu alasan, kenapa aku lebih memilih rumah di kampung yang bisa bergaul dengan penduduk asli, ketimbang di kompleks yang sekuritinya komplit. Karena ada kecenderungan, tinggal di perumahan seperti itu, sekat2 keindividualisnya lebih tinggi, mau tak mau hiburan anak-anak lari ke mall. Secara tidak sengaja, lebih memungkinkan anak-anak berprilaku konsumtif, menganggap mengeluarkan uang itu memang sudah hal yang biasa, jadi kurang rasa terima kasih.
Saya juga tidak tau, apa yang saya anggap terbaik ini memang benar-benar yang terbaik. Namun setidaknya, seperti itulah yang aku pikirkan saat ini. Sebisa mungkin menghindari Farhan untuk terlalu aktif bergaul dgn mainan2 di mall, belanja di mall, makan di mall. Dan aku masih tetap berpikiran, menyayangi anak bukan berarti harus mengikuti semua keinginannya. Menghukum anak, bukan berarti semuanya efeknya negatif. Semua dengan porsinya masing-masing. Dan saya masih yakin dengan itu, setidaknya dengan segala keterbatasanku, sebagai bapak. Toh aku juga manusia, tidak mungkin bisa berlaku perfect.
Terkait ke"pelit"an itu, khususnya berhubungan dengan uang jajan di Farhan. Dulu, awal-awal hidup berdua ma si Farhan, hampir tidak ada jatah uang jajan buat dia. Kalau ada yang dimaui, lalu diterima akal sehat seorang premanG, minimal dibeliin, lalu diserahkannya dari ruang dapur, seakan-akan itu barang atau makanan dibuat di rumah.
Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, terutama setelah si Farhan dah banyak berteman dengan anak-anak di kampung tempat premanG tinggal. Anak-anak kampung yang jumlahnya sangat banyak, ternyata pada doyan jajan. Dan orangtua mereka pun seakan2 berlomba membekali anak2nya uang jajan. Entah, ada rasa kebanggaan tersendiri, kalau melihat anak2nya "sanggup" jajan lebih banyak.
"Biarin aja mereka jajan banyak. Tapi Farhan gak boleh seperti itu. Yang perlu-perlu aja. Papa-nya Farhan kan gak punya banyak duit", ujarku tatkala Farhan komplen, jatah jajannya sedikit.
ke"pelit"an itu bukan tidak beralasan. Pertama, untuk mengajarkan betapa untuk mendapatkan uang itu tidak gampang, butuh perjuangan. Ujung-ujungnya, agar sang buah hati itu bisa menghargai kerja keras untuk mendapatkan materi tersebut. Kedua, sudah jelas bahwa makanan di rumah, lebih terjamin kebersihannya di banding jajanan di jalanan. Ketiga, salah satu unsur menanamkan disiplin diri. Kedengaran terlalu canggih, tp minimal itu sebuah harapan.
Apa akibat dari penerapan ke"pelit"an seperti itu? Tentu ada. Dan yang pasti, ada baik dan ada juga tentu efek buruk. Aku pikir semuanya juga begitu. Hampir gak mungkin kalau kita hanya mengharapkan efek baiknya doang. Karena kedua potensi itu ada. Dan itu sebuah resiko.
Efek buruknya, kadang Farhan dibilangin ma teman, "Farhan miskin amat sih?". Namanya anak kecil, pertama egonya naik, mau membela diri kalo dia jg gak se-kere kata orang. Tapi setelah aku bilangin agar gak usah peduli apa kata orang masalah itu, lambat laun dia bisa mengerti juga. Sekali lagi "lambat laun". Bahkan karena gak kuat menahan "ejekan" teman, sampai Farhan pernah diam-diam ngambil duit recehan dari mobil. Tapi sekali lagi itu adalah sebuah resiko. Namun setelah kembali diberikan pengertian sedikit demi sedikit, akhirnya dia ngerti juga.
Beberapa hari yang lalu, kebetulan aku jalan2 dan melewati sebuah pasar malam yg tidak begitu jauh dari rumah. Melihat kedap-kedip yang menggoda itu, Farhan merengek minta diajakin masuk. Akhirnya aku menyerah, dan minta Kakaknya yg kerja di rumah nemenin. Dan alhasil, setelah kembali, aku merasa gembira sekali mendengar laporannya. "4 ribu aku pake naik kuda-kudaan. sisanya aku beliin buku. Ini bukunya", ujarnya sambil menyodorkan beberapa buah buku untuk mewarnai.
Kejadian lain, masalah uang jajan di Sekolah. Emang aku ngasihnya seadanya, kembali ke alasan yang aku tulis di awal tadi. Suatu hari, aku gak punya uang kecil, sehingga ngasihnya pecahan yang agak besar. Ketika aku pulang kantor, dengan bersemangat Farhan membawa kembaliannya sambil berujar, "aku cuman jajan seribu. Malas jajannya, Ini kembaliannya", katanya sembari menyodorkan pecahan ribuan 9 lembar. Karena aku tidak terlalu fokus memperhatikan, dia melanjutkan, "kembaliannya aku masukin di dompet Papa yah". Aku hanya bisa berujar, "Iyah", sambil tersenyum dalam hati.
Farhan mungkin termasuk anak yang sangat jarang main ke Mall. Semua juga ada pertimbangannya. Lebih baik main sama teman-teman dekat rumah aja, pikirku. Biarin teman-temannya ikutan masuk main karaoke di rumah. Atau ngutak-atik komputer bersama Farhan. Hampir bebas..., asal abis itu diletakkan pada tempatnya kembali. Dan tidak boleh berisik tatkala aku lagi istirahat di rumah.
Itu juga salah satu alasan, kenapa aku lebih memilih rumah di kampung yang bisa bergaul dengan penduduk asli, ketimbang di kompleks yang sekuritinya komplit. Karena ada kecenderungan, tinggal di perumahan seperti itu, sekat2 keindividualisnya lebih tinggi, mau tak mau hiburan anak-anak lari ke mall. Secara tidak sengaja, lebih memungkinkan anak-anak berprilaku konsumtif, menganggap mengeluarkan uang itu memang sudah hal yang biasa, jadi kurang rasa terima kasih.
Saya juga tidak tau, apa yang saya anggap terbaik ini memang benar-benar yang terbaik. Namun setidaknya, seperti itulah yang aku pikirkan saat ini. Sebisa mungkin menghindari Farhan untuk terlalu aktif bergaul dgn mainan2 di mall, belanja di mall, makan di mall. Dan aku masih tetap berpikiran, menyayangi anak bukan berarti harus mengikuti semua keinginannya. Menghukum anak, bukan berarti semuanya efeknya negatif. Semua dengan porsinya masing-masing. Dan saya masih yakin dengan itu, setidaknya dengan segala keterbatasanku, sebagai bapak. Toh aku juga manusia, tidak mungkin bisa berlaku perfect.
Track Back : http://manage.catatanku.com/tb.cgi/226_1345_2008_12
Oleh Accul ( 19 Desember 2008 15:25:11 )
Oleh Sharben ( 29 Desember 2008 09:18:48 )
SELAMAT TAHUN BARU ISLAM, 1 MUHARRAM 1430 H.
SEMOGA DI TAHUN BARU 1430 H INI DAN TAHUN 2009 NANTI MENJADI MOMENTUM UNTUK HIJRAH DARI YANG BAIK KE YANG LEBIH BAIK. SEMOGA ALLAH SWT SENANTIASA MELIMPAHKAN RAHMAT DAN HIDAYAH-NYA KEPADA KITA SEMUA. AMIN...AMIN YA ROBBAL ALAMIN.
WASSALAMU ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH.